Tampilkan postingan dengan label Al Hikam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Hikam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2011

Materi ke-132 (Al-Hikam)

“Tempat terbitnya cahaya-cahaya adalah qalbu-qalbu dan rahasia qalbu”

Kenapa demikian? Karena sumbernya adalah pemahaman atau pengetahuan. Pemahaman itu ada pada qalbu, sedangkan munculnya pengetahuan adalah dari rahasia qalbu atau rahasia batin (asrar). 

Dalam kitabnya, Syeikh Abul abbas al-Hadhramy menegaskan, “Pemahaman nuur itu menurut limpahan anugerah yang memancar di qalbu dan menurut kadar cahaya dalam batinnya qalbu.“  Beliau juga mengatakan, “Cahaya itu beragam dan berbeda-beda: Ada cahaya watak diri, ada cahaya akal, ada cahaya ruh, ada cahaya qalbu dan ada cahaya titik hitam dalam qalbu (suwaidaa’ul qalb), ada pula cahaya rahasia batin (sirr), dan cahaya dalam rahasia batin (sirr) itulah yang paling agung dan paling sempurna.
Setiap cahaya dari semua cahaya itu ada yang disebut dengan cahaya penakwilan (cahaya kecerdasan), ada cahaya pelimpahan anugerah (cahaya tanziil), ada cahaya transformatif (cahaya menuju yang lebih terang) dan cahaya perpindahan (cahaya tanqil).
Setiap tahap (maqam ruhani)  ada penjelasan yang tak terjangkau oleh batin kita apalagi membuat batasan garis, “Dan tidak ada yang tahu pasukan-pasukan Tuhanmu kecuali Dia”.

Beliau melanjutkan:
“Ada cahaya yang dititipkan dalam qalbu, cahaya itu melimpah datang dari khazanah ghaib tersembunyi.”
Syeikh Zarruq dalam syarah Al-Hikam ini mengatakan, “Cahaya yang dititipkan dalam qalbu itu adalah yang tercetak dalam batin qalbu yang melimpah dari cahaya Musyahadah di Hari Perjanjian Azali :
“Bukankah Aku Tuhanmu? Mereka menjawab, “Benar (Engkaulah Tuhanku)”. (Al-A’raaf: 7)

Cahaya itulah yang diibaratkan sebagai cahaya mata kita ketika mata memandang. Namun datangnya cahaya itu setelah adanya cahaya Ilham yang memancar dari khazanah rahasia tersembunyi (khazainul ghuyub)….”.
Beliau melanjutkan:
“Ada cahaya yang tersingkap padamu melalui ciptaan-ciptaannya, dan ada cahaya yang tersingkap padamu melalui Sifat-sifatNya.”
Dua model cahaya yang tersingkap, dan keduanya bersifat batin semua. Bila muncul cahaya yang tersingkap dari perspektif ciptaan-ciptaanNya, maka anda akan melihat cahaya itu dengan suatu efek bahwa ciptaan-ciptaan itu hanyalah sesuatu yang serba kurang dan sirna di dunia ini.  Tak ada yang abadi, kekal dan sempurna.

Dari sanalah seseorang menjadi penuh harap dan rasa takut, lalu mencari selamat dan pahala karena anda tahu sebenarnya dunia itu seperti apa.  Pada saat yang sama anda tahu akhirat dan kekekalannya dan apa yang disediakan Allah Ta’ala pada orang yang patuh dan taat padaNya dan apa yang diancamkan pada orang yang maksiat padaNya.
Sebagian para Sufi menegaskan, “Apabila iman ada di luar qalbu, yakni pada al-Fuad, maka orang beriman mencintai Allah dengan cinta yang setengah-tengah saja, bila iman sudah merasuk ke dalam qalbu yaitu masuk pada titik hitamnya, ia akan mencintai Allah dengan cinta yang sangat kuat.”
Namun hati-hati, cahaya itu bisa menjadi hijab, sebagaimana ciptaan ini bisa jadi hijab. Lalu Ibnu Athaillah as-Sakandary menegaskan:
“Kadang qalbu tercengang (berhenti) oleh pesona cahaya, sebagaimana nafsu terhijab oleh alam kasat mata.”
Kadang memang demikian, karena itu harus hati-hati, jangan sampai cahaya Allah Swt, justru menjadi tirai antara anda dengan Allah Swt, karena indahnya pesona ruhani, membuat anda alpa dan kehilangan pada Sang Pemberi Cahaya.
Model orang yang terpesona oleh cahaya dan terhenti ini ada tiga faktor:
Sangat senang dan suka cita dengan cahaya, asyik maksyuk dengan fenomena cahaya.
Menenggelamkan diri pada indahnya cahaya batin dan tidak menjenguk apa yang ada dibalik atau sesudahnya (Allah Sang Maha Pencahaya)
Memandang cahaya itu sebagai tahap final dari perjalanan ruhaninya.
Karena itu Ibnul Jalla’, ra, menegaskan, “Siapa yang hasratnya terhenti pada selain Allah Swt, ia kehilangan Allah Swt. Karena Allah Swt Maha Besar, dan jauh untuk disertai yang lainNya.
Karena itu, disebutkan oleh Syeikh Ahmad ar-Rifa’y, bahwa kaum ‘arifin bisa terkena istidroj bila terhenti pada kema’rifatannya, bukan pada Sang Ma’ruf (Allah Yang dimakrifati).
Dengan begitu:
Ketika anda berdzikir, jangan terhenti pada indah dan nikmatnya dzikir, lalu lupa pada Yang anda Ingat (Allah Swt),
Ketika anda beristiqomah jangan terpaku pada karomahnya, alpa pada Dia yang mencintai Istiqomah anda.
Ketika anda berdoa, gembira pada wujud ijabahNYa, lupa pada agung takdir munajat anda kepadaNya.

Beliau Ibnu Athaillah as-Sakandary  menyebutkan hikmah dibalik ditutupnya rahasia-rahasia para wali dari umumnya manusia, dan tidak muncul di tengah publik.
“Allah Swt menutupi cahaya-cahaya rahasia batin dengan alam lahiriyah, dalam rangka memuliakannya agar tidak tergelar di dalam wujud nyata (tampak). Sekaligus terhindarkan dari bahasa popularitas.”
Betapa mulianya cahaya-cahaya para ‘arifun dan para auliya’ itu, hingga Allah harus merahasiakannya, dibalik tampilan biasa, manusiawi dan alamiah belaka. Ibarat bintang di langit semakin tinggi semakin tidak tampak dan tidak bisa dipandang.
Bahkan orang-orang kafir pun terkecoh, ketika memandang para Nabi as. Ketika mereka mengatakan, “Ini tak lebih dari manusia seperti kalian, yang makan seperti makanan kalian dan minum seperti minuman kalian. “ (Al-Mu’minun 33), “Mereka mengatakan, Rasul macam apa ini yang makan makanan dan jalan di pasar-pasar?” (Al-Furqon: 7)

Karena itu mengenal wali, menurut Syeikh Abul Abbas Al-Mursy, lebih sulit disbanding mengenal Allah Swt. Karena Allah Ta’ala sangat jelas dengan keparipurnaan dan keindahanNya, sedangkan para wali, bagaimana anda tahu, mereka makan seperti anda, dan minum seperti minuman anda.”
Lalu Ibnu Athaillah menegaskan, “Bila Allah hendak mengenalkan anda pada seorang wali dari wali-waliNya, maka wujud manusiawinya disingkap pada anda, lalu dipersaksikan wujud keistemewaannya.”

Materi ke-97 (Al-Hikam)


Ibnu Athaillah:

"Janganlah kau tuntut Tuhanmu karena tertundanya keinginanmu, tetapi tuntutlah dirimu sendiri karena engkau telah menunda melaksanakan adab (kewajiban-kewajiban)mu kepada Allah.”

Betapa banyak orang menuntut Allah, karena selama ini ia merasa telah berbuat banyak, telah melakukan ibadah, telah berdoa dan berjuang habis-habisan.

Tuntutan demikian karena seseorang merasa telah berbuat, dan merasa perlu ganti rugi dari Allah Ta’ala. Padahal meminta ganti rugi atas amal perbuatan kita, adalah wujud ketidak ikhlasan kita dalam melakukan perbuatan itu. Manusia yang ikhlas pasti tidak ingin ganti rugi, upah, pahala dan sebagainya. Manusia yang ikhlas hanya menginginkan Allah yang dicinta. Pada saat yang sama jika masih menuntut keinginan agar disegerakan, itu pertanda seseorang tidak memiliki adab dengan Allah Ta’ala.

Sudah sewajarnya jika kita menuntut diri kita sendiri, karena Allah tidak pernah mengkhianati janjiNya, tidak pernah mendzalimi hambaNya, dan semua janjinya tidak pernah meleset. Kita sendiri yang tidak tahu diri sehingga, kita mulai intervensi soal waktu, tempat dan wujud yang kita inginkan. Padahal itu semua adalah Pekerjaan Allah dan urusanNya.

Orang yang terus menerus menuntut dirinya sendiri untuk Tuhannya, apalagi menuntut adab dirinya agar serasi dengan Allah Ta’ala, adalah kelaziman dan keniscayaan. Disamping seseorang telah menjalankan ubudiyah atau kehambaan, maka si hamba menuruti perilaku adab di hadapanNya, bahwa salah satu adabn prinsipalnya adalah dirinya semata untuk Allah Ta’ala.

Karena itu Ibnu Athaillah melanjutkan:
“ Ketika Allah menjadikanmu sangat sibuk dengan upaya menjalankan perintah-perintahNya dan Dia memberikan rezeki, rasa pasrah total atas Karsa-paksaNya, maka sesungguhnya  saat itulah betapa agung anugerahNya kepadamu.”

Anugerah paling agung adalah  rezeki rasa pasrah total atas takdirNya yang pedih, sementara anda terus menerus menjalankan perintah-perintahNya dengan konsisten, tanpa tergoyahkan.
Wahb ra, mengatakan, “Aku pernah membaca di sebagian Kitab-kitab Allah terdahulu, dimana Allah Ta’ala berfirman:
“Hai hambaKu,  taatlah kepadaKu atas apa yang Aku perintahkan kepadamu, dan jangan ajari Aku bagaimana Aku berbuat baik kepadamu.

Aku senantiasa memuliakan orang yang memuliakan Aku, dan menghina orang yang menghina perintahKu. Aku tak pernah memandang hak hamba, sehingga hamba memandang (memperhatikan) hakKu.”

Syeikh Abu Muhammad bin Abdul Aziz al-Mahdawi ra, mengatakan, “Siapa pun yang dalam doanya tidak menyerahkan dan merelakan pilihannya kepada Allah Ta’ala, maka si hamba tadi terkena Istidroj dan tertipu. Berarti ia tergolong orang yang disebut dengan  kata-kata, “Laksanakan hajatnya, karena Aku sangat tidak suka mendengarkan suaranya.”. Namun jika ia menyerahkan pilihannya pada Allah Ta’ala, hakikatnya ia telah diijabahi walau pun belum diberi. Amal kebaikan itu dinilai di akhirnya…” 

Rabu, 18 Mei 2011

Materi ke-10 (Al-Hikam)


Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary

 “Beraneka warna  Jenis Amal Perbuatan, Kerana Bermacam-macam pula Ahwal (pemberian karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya)”


Allah tahu percis kelebihan dan kelemahan kita, Allah Maha Tahu semua keadaan mahluknya yang bermacam macam karakter, Karena Allah yang menciptakan..

Dan Allah menjadikan variasi amal..  ini adalah pemberian, khazanah karunia dari Allah SWT..
Karean berbagai macam jenis-jenis pemberian Allah, maka amal juga bermacam-macam.
Ada yang diberikan harta melimpah maka hadiah amalnya adalah sedekah, bagaimana kita mengaggap itu kebaikan kita.. sedangkan rejeki untuk sedekah saja dari Allah..
Kalau Allah menutup rejeki,  tidak  ada uang atau barang untuk sedekah .. 

Tapi tidak semua orang diberi harta melimpah, ada orang yang sedikit rejekinya Allah memberikan pas, tapi dia punya niat.. maka niat juga jadi amal, kita senang “ya Allah teman saya banyak uang dan bisa sedekah, syukur Alhamdulillah saya gembira lihat dia sedekah” .. maka kegembiraan diapun menjadi amal,..

Ada yang diberikan kebenarian dan otot seperti syyaidina hamzah, gagah perkasa seperti benteng ketaton, tapi tidak semua orang seperti beliau, ada yang mungil, lemes, ada yang kakinya kecil, ada yang lumpuh tapi disana dia dapat mendekat kepada Allah dengan amal-amalnya, dia tidak minder, dia tidak berburuk sangka kepada Allah itupun menjadi amal yang membuka karunia Allah pintu ma’rifat..

Ada yang diberi kecantikan oleh Allah, tapi dia sadar kecantikannya bisa  menggelincirkan, maka dia jaga supaya para laki-laki tidak terjungkal hatinya.. remuk imannya, itu juga amal..

Ada juga yang pas-pasan wajahnya seperti kita, tapi tidak minder..
“weeeh kok wajanya kamu item tidak mancung”… ya suka-suka Allah
Tidak apa-apa kita tidak cantik di dunia, malah untung begini adanya.. mudah-mudahan diakhirat jadi bidadari di surga...

SEMUAnya jadi amal.. semuanya kalau kita menyadari.. semuanya karunia dari Allah..

_Perbedaan karunia Allah membuat kita punya kemampuan, berbeda-beda pula amal dalam mendekat kepada Allah_

Materi ke-5 (Al-Hikam)

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary

“ Apabila Tuhan membukakan mu suatu jalan untuk ma’rifat yaitu mengenal kepada mu, maka jangan kau hiraukan soal amal mu yang sedikit, sebab Rabb tidak membukakan bagimu, melainkan Ia akan memperkenalkan diri kepada mu, tidaklah kau ketahui bahwa ma’rifat itu semata-mata pemberian karunia Allah kepada  mu sedangkan amal perbuatanmu hadiah dari padamu, maka dimanakah letak perbanidingannya antara hadiahmu dengan pemberian karunia Allah kepada mu?”


Andaikata Alloh membukakan mu suatu jalan untuk ma’rifat yaitu mengenal Allah, maka jangan kau hiraukan amal  yang sedikit, sebab Allah tidak membukakan kepadamu, melainkan Ia akan memperkenalkan diri kepada mu.  Amal itu adalah hadiah kita kepada Allah sedangkan Ma’rifat adalah karunia pemberian Allah kepada kita, apalah artinya amal kita dibanding dengan karunia Allah.

Jika kita ingin tahu nikmat yang terbesar dihidup ini adalah Ma’rifatullah, orang yang dibukakan hatinya bisa mengenal Allah, karena semua puncak ahklak, semua puncak kebahagiaan itu hanya ada bagi orang yang mengenal yakin, ta’at kepada Allah.

Ikhlas itu tidak akan terjadi kecuali  orang-orang yang sangat mengenal Allah, kalau orang sudah tahu yakin Allah itu Maha Menatap, Maha  Dekat, Maha Menyaksikan, menguasai setiap ganjaran lalu apa perlunya kita cari muka kepada manusia.

Sabar itu hanya milik orang yang  yakin kepada Allah, kalau kita sudah yakin Allah menentukan setiap ujian sudah diukur,  Allah tidak mungkin salah mengukur, Allah memberikan ganjaran “bighairi hisaab” yang tiada terputus bagi ahli sabar, Allah menjanjikan : “Innallaha ma’as shabiriin” Allah itu bersama  orang-orang yang sabar.
Lalu apa lagi yang membuat kita tidak bersabar???  Sedangkan kesabaran itu adalah kunci kedekatan kita kepada Allah. Kalau kita sudah tahu yang membagikan rejeki itu Allah untuk apa  menipu, sikut sana sikut sini dan saling menyakiti. Allah menciptakan kita lengkap dengan rejekinya, orang yang dzalim saja diberi bagaimana mungkin orang yang ta’at tidak dijamin. Arinya keikhlasan, kesabaran, kegigihan ikhitiar, rasa syukur, kejujuran dan aneka amal lainnya itu akan mudah bagi orang yang mengenal Allah dengan baik.
 Adapun amal-amal kita, kita harus tahu bahwa amal itu kecil dibandingkan dengan nikmat Allah.

Ada sebuah kisah seseorang hamba Allah ibadah selama tujuh puluh tahun (70) tiada terhenti, hari-harinya penuh amal. Kemudian meninggal, dalam kisah ini disebutkan “Timbang... masukan dia kedalam surga dengan rahmat-Ku” Allah berfirman seperti itu.
Rupanya sang ahli amal keberatan “Ya Allah bukankah saya selama ini beramal selama tujuh puluh tahun, siang malam tiada henti kenapa saya di masukan ke syurga dengan rahmat-Mu tidak dengan amal-amalku”. Jawab Allah “ Baik, Timbang..!” ibadah tujuh puluh tahun tiada henti, ternyata tidak mencukupi mensyukuri sebelah matapun nikmat dari Allah, maka kita tidak boleh ujub dengan amal kita karena itu tidak sebanding, apalagi amal itu “ Allah tidak melihat dari jasad luar, tapi Allah melihat dari dalam (hati)”.  Oleh karena itu hati-hatilah didalam menilai amal kita jangan ujub dengan amal-amal karena itu tidak ada nilainya dibanding dengan nikmat yang melimpah dari Allah SWT

_____________________